Pahami, Persiapkan, Praktekkan
.
Sistematika tulisan ini, dibuat secara sederhana, dengan 3 bagian pokok, yakni :
.
Pahami
Persiapkan
Praktekkan
.
Memuat 3 tahap penting yang sesuai dengan pengalaman penulis, merupakan tahapan yang mudah diikuti, dalam hal memahami marketing sebagai sebuah pengetahuan dan kemampuan yang dapat dilatihkan, mempersiapkan hal-hal penting agar aktifitas marketing dapat dijalankan, dan tentu saja kemudian mempraktekkannya sebagai upaya konkret mendapatkan feedback dan dampak.
.
Pada 2018, Penulis sebagai founder, bersepakat dengan beberapa co-Founder, mendirikan iMARKS. Dengan nama resmi : PT Fortuna iMARKS Trans atau PT FIT, iMARKS mengambil positioning dan ceruk pasar sebagai konsultan pemasaran yang menawarkan layanan Marketing Development Program (MDP) dengan durasi kontrak selama 1 tahun penuh.
.
Bersyukur sekali, karena sebagai layanan advisory yang baru lahir, iMARKS sudah mendapat kepercayaan dari brand-brand yang tumbuh secara agresif, seperti Ayam Goreng Nelongso, Roti Gembong Juanda, Lazizaa, Kayana Kebab dan Burger, Sayap Grak, dan Djajan Seafood yang rata-rata jumlah outletnya tak muat 10 jari menyebutkannya satu persatu.
.
Dalam proses pendampingan, atau Marketing Development Program, tahapan proses yang dilakukan, ternyata kemudian memang sama, yakni : memberikan pemahaman, membantu persiapan, dan mendampingi saat praktek dieksekusi.
.
Mengapa begitu? Di iMARKS memegang teguh sebuah prinsip : \”Hanya Intervensi Yang Dapat Memicu Impact!\”. Lawan dari intervensi, tentu saja pembiaran, dan itu tidak bisa dibiarkan.
.
Bagian satu, mayoritas klien tidak paham, what is marketing about? Paham kalau marketing adalah unsur penting yang diperlukan dalam pertumbuhan bisnisnya, tapi tidak paham, marketing itu makhluk apa. Perlu pemahaman.
.
Setelah paham, biasanya memberikan reaksi generik : ooo, begitu? Kemudian, lanjut nanya, Sam, setelah paham, jadi apa yang perlu Kami persiapkan Sam? Jadi mikir kan? Iya ya, Marketing memuat banyak hal untuk dikerjakan, dan tentu, perlu persiapan.
.
Berikutnya, tentu, saatnya praktek, bukan preketek. Karena apapun yang dibahas, adalah asumsi. Tak ada ujung dari sebuah asumsi, kecuali divalidasi hingga menghasilkan sebuah realita. Hasil adalah angka, bukan wacana.
.
Menantang memang, mana bisa pemahaman itu dituangkan dalam tulisan? Yang sudah pernah baca 3D Marketing pasti sudah bisa membayangkan, bagaimana potensi keseruan dari buku lanjutan : S3 Marketing ini. Dengan studi kasus yang lebih kaya, pengalaman dari lebih banyak kota, dan, tentu saja kerenyahan penyampaian yang terjaga senantiasa.
.
Buktikan, bagaimana sebuah konsep tetap disampaikan dan poinnya kena, dengan penyampaian yang mengena.
.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Go Top