Cerita ini berawal dari kegiatan harian saya, scroll scroll instagram tiap malam. Di kolom pencarian saya selalu menemukan orang mukbang/ orang makan dengan porsi banyak/ orang makan makanan yang kelihatannya enak. Dalam benak saya \”enak banget makan makan terus!\”. Akhirnya saya coba lihat salah satu profil tersebut @magdalena, usut punya usut ternyata tiap apa yang dia makan ada tarifnya alias berbayar. Mereka sering juga disebut Influencer/ food blogger/ dll.

Nah apa sih yang menarik bagi saya?
Jelas jawabannya ada dua, yaitu Makan dan Uang. Menariknya lagi ternyata fenomena ini juga ada di kota kecil, seperti Malang. Sedikit berbeda karena jangkauan beberapa influencer di Malang tidak sebanyak influencer kota besar, belakangan mereka menyebut ini dengan Micro Influencer.

Apasih yang membuat Micro Influencer belakangan ini menjadi ramai?
Jawabannya mungkin sudah diketahui oleh beberapa pelaku bisnis. Yup! Micro Influencer dipandang sebagai jalur promosi dengan upaya yang kecil namun berdampak signifikan.

E commerce sebesar Tokopedia dan produk Parfume Axe pun memanfaatkan momentum ini. Mereka memanfaatkan Micro Influencer sebagai senjata promosi yang gencar saat ini. Dengan produk yang dibagikan lalu memakai caption sesuai dengan karakter Micro Influencer masing masing. Hal ini menjadikan produk yang dipromosikan menjadi semakin dekat dengan konsumen yang mereka sasar.

Nah, bagi Anda pelaku bisnis di luar sana, apakah Anda sudah memanfaatkan momentum ini juga?

Triwida W.
PT. Fortuna Imarks Trans

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Go Top