Suatu hari, Sahabat Saya yang bisnis kulinernya sudah puluhan outlet di belasan kota nyeletuk. Sam, bisnis kuliner itu, cabang 2 atau cabangnya banyak, repotnya kurang lebih sama, palingan yang beda jumlah orang yang mengelola, dan yang jelas beda juga, hasil yang kita terima.

.

Saya simak, Saya pahami, Saya cerna, Saya cermati, kok bener juga ya. Karena benar itu artinya tidak salah, karena Salah mainnya di Liverpool. 😘

.

Ya memang beda kalau yang bicara itu pemain atau pelaku lapangan yang sudah sukses dan berhasil, guyonannya, dia menguap aja ya bisa jadi quote yang dikutip sama media dan followersnya.

.

Hal menarik kemudian adalah, kenapa menggunakan penjelasan 2 cabang dan banyak cabang? Karena ini pola pikir fundamentalnya. Dalam bisnis kuliner yang dijamah dan dijelajah oleh para LaperPreneur, ada 2 aliran, yakni aliran : Tidak Buka Cabang Dimanapun, dan ada aliran kedua : Buka Cabang Sebanyak-banyaknya. Kalau mau jujur, ada aliran ketiga yang samar-samar namun nyata adanya, yakni aliran : Pengen Buka Cabang Tapi Nggak Tau Caranya, Katanya Begini Katanya Begitu Akhirnya Buka Cabang Terhenti Dalam Taraf Wacana. Baik, jawab cepat, Anda masuk golongan mana?

.

Tahap pertama disebut #StartTheFirst

Sesuai namanya, ya dibuka dulu bisnis kulinernya, jangan dibahas semata dan ditanyakan melulu. Kena tampar ntar sama Alm Bob Sadino : Bisnis yang bagus itu bisnis yang dijalankan, bukan terus-terusan ditanyakan. Tahap ini disebut tahap eksekusi dan validasi, kalau anak-anak StartUp nan canggih dan kekinian, meminjam istilah Eric Ries di buku Lean StartUp : MVP atau Minimum Viable Products, yang diartikan secara sederhana sebagai dosis terkecil ide dapat dieksekusi dan diwujudkan dalam pelaksanaan.

.

Tahap kedua disebut #RoadToSix

Tentu tahap kedua ini dibahas dan dapat didiskusikan kalau tahap pertama sudah lolos ya, tidak muntaber (mundur tanpa berita) duluan gara-gara mumet mengurus bisnis kulinernya sehingga keburu masuk fase : Semua Akan Embuh Pada Waktunya alias : Hembuhlah! Road to six adalah upaya aktif untuk menangkap pola bisnis dan menduplikasinya dengan segera di outlet ke 2, 3, 4, 5, 6 dengan menggunakan sumberdaya mandiri alias tumbuh secara organik. Wuaduh, pakai modal sendiri ya? Nggak kelamaan 6 outlet itu? Eits, ingat, nasehat terkait dengan sindrom : “kemrungsung” yang sudah kita bahas sebelumnya? Nambah outlet jadi 1 hingga 6 secara organik rata-rata dapat dicapai dalam 24 bulan alias 2 tahun, sehingga rata-rata setiap 5 bulan an, membuka outlet yang baru setelah outlet pertama lahir. Apa keunggulan dari pola berpikir ini? Pebisnis jadi fokus, lekas enam, lekas enam, lekas enam, jadi hemat dan taktis dalam tata kelola keuangan, dan bisa menahan diri untuk tidak belanja yang enggak-enggak. Kebayang lah, di outlet 4 saja, kalau omzet harian per outlet 5 juta saja, maka sebulan bisa mencatat omzet 500.000.000 atau 1/2 M dengan 25 hari kerja, kalau bicara profit margin 15% saja, maka 75.000.000 aman di pelukan, apa nggak jadi OKB alias Orang Kaya Baru tuh?

.

Di tahap Road To Six ini biasanya mulai kerasa butuh konsultan dalam berbagai bidang, salah satunya konsultan pemasaran. PT Fortuna iMARKS Trans atau iMARKS, mayoritas kliennya, bersepakat untuk merancang Marketing Development Program nya di fase ini, untuk menandatangani kontrak dan didampingi dalam periode berbasis 1 tahun. Prinsipnya, mereka mengambil langkah untuk didampingi, agar tidak buang-buang sumberdaya untuk trial dan error. Pihak konsultan dengan penguasaan bidang keilmuan dan lingkup pengalaman yang dimiliki, diposisikan sebagai katalis atau percepatan.

.

Tahap ketiga disebut #RoadToTwenty

Tahap ketiga tentu terjadi saat #RoadToSix sudah terpenuhi. Ketika sudah 6 outlet, biasanya bisnis kuliner boleh dibilang sudah menguasai 1 kota. Road To Twenty mendorong tantangan untuk berekspansi keluar, paling tidak menjelajah satu propinsi. Contoh saja, Jawa Timur terdiri dari 38 Kota dan Kabupaten, hadir di 7 kota dengan masing-masing ada 3 outlet, sudah kondang brand nya, road to twenty terpenuhi. Omzet 5 jutaan harian dengan profit margin 15% saja, duh, lezat memang ya kalau bicara angka.

.

Tahap ke empat? #RoadToHundred

Bicaranya menuju 100, pasti konteksnya nasional, bahkan lintas negara. Klien iMARKS ada yang masuk tahap ini? Pastinya! Caranya? Hla itu diatas Maria Mercedes! There are no shortcut for success, its accumulate our blood, sweat, and tears!

.

Ya dibikin dulu sebiji outlet, kelola dan kembangkan. Ketemu 6 atau hampir 6, ayo kontakan, kita rancang 3T nya, Team, Tools, dan Timeline nya. Narasinya lebih ke nasionalisme, bangsa sebesar ini masa nggak mampu membereskan urusan perutnya sendiri? Sampai kapan untuk makan saja kita diurus sama Kolonel dan Badut?

.

This is a wake up call u/ Para LaperPreneur, karena jika bisnis kuliner Anda tidak buka cabang, tidak melakukan pertumbuhan horizontal, bukan berarti konsumen berhenti dan tidak makan, namun mereka sedang dilayani oleh kompetitor.

.
Salam Pertumbuhan!

Faizal Alfa

PT Fortuna iMARKS Trans

Marketing Development Partner

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Go Top