Kamu bener Sam, memang memperlakukan customer kita, tidak bisa dihandle dengan cara : one-night-stand, layani dan lupakan. Susah juga kalau kita tidak mengetahui siapa konsumen kita, capek nyari, tapi nggak pernah berujung ke janji suci.

.

Saya menyimaknya dengan serius, dalam batin Saya, ini orang sedang membahas pemasaran, atau sedang curhat perihal kehidupannya yang masih kosong karena bisnis sudah ada tapi pasangan belum punya? Wkwkwk

.

Memang, kulihat pebisnis yang satu ini, nampaknya lama sekali hatinya tidak terisi oleh tambatan hati, saking lamanya gak ada yang nempati, itu hati berdebu tebal sekali. Kulihat pundaknya juga tak pernah disandari, sehingga penuh sarang laba-laba disana dan disini, Saya turut prihatin.

.

Intermezzo saja, biar pikiran meregang dan hati jadi tenang, karena bahasan kita dalam bab ini agak serius serius maknyus. Kenapa Saya bilang serius? Karena dalam kenyataan dan di lapangan, iMARKS menemui betapa banyak LaperPreneur yang sudah menjalankan bisnisnya bertahun, belasan tahun, bahkan puluhan tahun, namun tidak memiliki data konsumen, sama sekali. Dalam kondisi tersebut, apakah kita perlu takjub? Atau justru perlu prihatin?

.

Ada resto yang berjalan 10 tahun, ada juga yang sudah 20 tahun, yang paling legend, ada yang sudah 30 tahun beroperasi, dan tidak memiliki data konsumen. Saya bilang dengan nyeletuk, tambahi 2 tahun, sudah ketemu 32 tahun itu Mbak 😇😇, sudah setara dengan periode berkuasa orde baru di Indonesia.

.

Bicara mengenai data konsumen untuk LaperPreneur, ada 3 proses penting yang perlu mendapat perhatian dengan kesungguhan. Mulai saat ini, hendaknya, bagaimana data konsumen ini didapat, diolah, dan ditindaklanjuti, menjadi lingkup kerja yang dijalani dan perlu diapresiasi.

.

Proses pertama adalah :

Mendapatkan data konsumen

Bagaimana data konsumen diperoleh? Kalau modenya sudah di setting : perlu dapat data konsumen, maka percayalah dan buktikanlah, ada 1001 jalan dan pilihan untuk mendapatkan data konsumen. Coba simak, pernah ditawari membuat member card? Pernah menerima kartu buy 10 free 1? Pernah isi kupon u/ kesempatan mendapatkan undian? Pernah didatangi customer service u/ diajak diskusi, ditanyai dan didata? Pernah ikut giveaway melalui media sosial dengan beberapa syarat? Ya! Anda benar kisanak, itulah variasi dan aneka cara untuk mendapatkan data konsumen, siapa mereka dan berbagai informasi yang kita perlukan agar mampu melayani mereka dengan lebih baik.

.

Proses kedua adalah :

Mengolah data konsumen

Setelah data diperoleh, lalu diapakan? Jangan cuma dibiarkan tanpa penanganan. Ntar kalau keburu berjamur, tumbuh lumut, atau keropos karena dilahap rayap, repot juga. Olah data konsumen, rapikan dalam input yang midah diakses, kategorikan, cari apa yang disebut dengan : Prime Customer. Siapa mereka? Kalau kita bicara prinsip Pareto, tentu kita familiar dengan proporsi 80%:20%, kita mencari konsumen utama yang besar secara jumlah dan besar secara frekuensi maupun volume pembelanjaan. Kenapa di bank ada nasabah biasa dan ada nasabah prioritas? Mudah dicerna, anggap saja ada nasabah yang menyimpan uang 1 juta, dan ada nasabah yang menyimpan uang 1 milyar, apakah perlakuan untuk masing-masing nasabah disamakan saja, atau perlu dibedakan untuk suatu tujuan? Kalau mau jujur, dalam semesta LaperPreneur, sama juga, ada konsumen yang sebulan belanja total Rp 250.000 di outlet kita, ada yang total Rp 25.000.000, maka, perlu sama apa beda perlakuan kita? Ah, nggak usah jauh-jauh membahas kesana, data konsumen sudah ada belum nih? 😘

.

Proses ketiga adalah :

Merancang perlakuan pada konsumen

Kalau sudah ada data, mau diapakan, tinggal dipikirkan. Mau diberikan informasi promosi? Mau ditawari menu baru? Mau dijaring dalam program membership? Mau merancang program loyalty? Mau diajak FGD u/ validasi opsi menu baru? Diajak terlibat dalam kuesioner? Mau diundang dalam acara gathering? Mau ditanya tentang pilihan lokasi outlet baru yang akan dibuka? Diajak dilibatkan jadi distributor/agen/reseller atau diajak menjadi mitra atau investor dalam ekspansi bisnis kita?

Ah, nggak usah jauh-jauh membahas kesana, data konsumen sudah ada belum nih? 😘

.

Jadi, sudah berapa tahun bisnis kulinernya? Ada berapa data konsumennya? Atau, jangan-jangan, kenal sama konsumennya aja enggak, bodo amat! Dan ingat, perilaku kita memicu reaksi sejenis dari lawan komunikasi kita, bodo amat!

.

Salam Pertumbuhan!

Faizal Alfa

PT Fortuna iMARKS Trans

Marketing Development Partner

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Go Top