Apa lagi ya piggy back itu?

Pertama kali dengar istilah itu dari James Gwee. Di rentang 2010 – 2014, nonton bareng video video James Gwee adalah camilan rutin di kantor, mengingat, ikut eventnya James Gwee di Jakarta ataupun Singapore masih menjadi kemewahan tak terjangkau 🤭🤭. Saat itu Saya dalam posisi bekerja sebagai trainer di sebuah lembaga pelatihan, Surplus Indonesia, di bawah binaan Pak Syam Machfoedz, salah satu sosok penting dan guru dalam kehidupan Saya.

Piggy back diartikan secara sederhana sebagai gendongan, atau tambahan yang numpang dalam skema. Bayangkan sebuah adegan seorang anak menggendong anak yang lain, maka akan menjadi rasional dan masuk akal ketika sang penggendong, lebih besar dan lebih kuat daripada yang digendong.

Dalam praktek penerapan program bonus di bisnis restoran, piggy back adalah salah satu jurus andalan dalam merancang sebuah program promosi. Salah satu skema yang umum dan mudah dilakukan, adalah menggunakan piggy back untuk mengenalkan varian menu atau produk baru. Misalnya, kita punya produk baru, varian ayam saus korean spicy, yang baru dirilis, maka, produk baru itu dapat kita kenalkan sekaligus cicipkan, sebagai bonus, setiap pembelian produk lain yang memang sebelumnya sudah favorit, dengan HPP rendah dan gross profit yang bagus.

Dalam konteks inilah, piggy back dapat mudah dicerna dan diterapkan sebagai sebuah promosi dengan metode bonus. Mirip buy 1 free 1, namun antara yang di buy dan yang di free, adalah 2 produk berbeda.

Kalau buy 1 free 1 umumnya memuat produk yang sama, misalnya, pembelian paket spicy wings bbq 4 pcs gratis spicy wings bbq 4 pcs, maka piggy back dapat menerapkan pembelian paket spicy wings bbq 4 pcs, gratis korean spicy wings 2 pcs, dengan secara kalkulasi, biaya 2 pcs (yang digendong) sudah di cover oleh gross profit 4 pcs (yang menggendong).

Posisi ini memberikan keleluasaan bagi perusahaan kita, untuk menyediakan promo yang masih sehat secara keuangan, karena alih alih memberikan subsidi, paling tidak, ruangnya masih relevan untuk menutup hpp, atau bahkan masih ada gross profit meskipun tipis. Dampaknya, konsumen punya alasan tambahan u/ membeli, dan kita punya rasionalisasi untuk \”memaksa\” konsumen mencoba dan mencicipi varian menu baru.

Hitung hitungan tetap menjadi kunci, karena pada dasarnya, setiap promosi akan berkorelasi langsung dengan target dan alokasi anggaran yang digunakan. Layaknya perang, jangan sampai amunisi yang digunakan, lebih mahal daripada kemenangan perang yang dituju.

Salam Pertumbuhan!

Faizal Alfa
PT Fortuna iMARKS Trans
Konsultan Pemasaran Restoran

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe to get 15% discount