Dalam bisnis kuliner penggunaan kuesioner apakah dirasa penting? Lantas mengapa butuh interview kalau sudah ada kuesioner?

seperti yang sudah pernah dibahas pada artikel sebelumnya, dimana biasanya pelaksanaan kuesioner dibarengi dengan interview. Interview sendiri ialah memberikan pertanyaan sebagai tambahan informasi atau sebagai data dukungan dari kuesioner. Biasanya penggunaan wawancara dilakukan secara mendalam dan tidak mendalam karena diperlukan sebagai tambahan data saja.

Tambahan data yang bagaimana?

Pada salah satu client dari rekan saya di sayap grak, pelaksanaan interview dilakukan pada awal pembukaan sehingga konteks dari interview terkait dengan rasa, pelayanan maupun kenyamanan tempat. Tentunya disini konteks interview dilakukan secara tidak mendalam karena sebagai bentuk validasi dari kuesioner yang dibuat.

Hal tersebut dilakukan agar bisa mengetahui kemauan market agar menjadi proyeksi kedepannya.

Berbeda dengan salah satu interview yang pernah saya lakukan pada customer loyal salah satu brand di kalimantan yakni roti gembong juanda terkait rasa dan beberapa komplain produk, maka interview dilakukan agar memberi evaluasi bagi pihak produksi. Sehingga interview dilakukan secara mendalam dengan dibantu kuesioner sebagai bentuk validasi dari intervier tersebut.

Berbeda konteks kan?

Dari kedua contoh kasus tersebut diatas sebenarnya bisa saya ambil manfaatnya mengenai peran interview pada bisnis kuliner. Selain sebagai proyeksi juga sebagai evaluasi dari sebuah brand. Tentunya konteks bisa disesuaikan oleh kebutuhan pelaku bisnis. Sebagai pelaku bisnis yang saya ketahui ialah konsumen atau pelanggan tidak akan pernah salah. Lantas, siapa yang salah?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Go Top