Histori (sejarah) dapat diartikan sebagai kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah. Atau bisa diartikan lagi sebagai penemuan, koleksi, organisasi, dan penyajian informasi dari masa lalu. Menurut Bapak kita R. Moh. Ali dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, mempertegas pengertian sejarah sebagai berikut:

  1. Jumlah perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
  2. Cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian, atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
  3. Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan, kejadian, dan atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.

Proyeksi adalah perkiraan tentang keadaan masa yang akan datang dengan menggunakan data yang ada (sekarang). Sebuah prakira kedepan yang didasarkan pada histori.

Omset adalah jumlah uang hasil penjualan barang (dagangan) selama masa jual. Bagi kita para laperpreneur pasti sudah paham mengenai omset ini. Ingat lho ya omset dan profit berbeda.

Dari pengertian diatas Histori dan Proyeksi harus selalu berdampingan. Blajar dari kehidupan. Mari kita lihat hubungan relasi kita terhadap perempuan. Ada kalimat menyebutkan bahwa perempuan adalah pengingat yang baik. Sepakat dengan kalimat tersebut? Yes perempuan akan mudah ingat akan kesalahan kita atau mantan kita. Histori kesalahan kita akan perempuan ingat sehingga ketika ada indikasi kita akan mengulangi kesalahan tersebut para perempuan biasanya bisa memproyeksikan apa yang akan terjadi. Pernah mengalaminya? Ini yang kadang membuat perempuan cerewet pada kita laki-laki yang terkadang lupa akan histori.

Lihat dari sisi pemerintahan, Presiden pertama kita pernah bilang “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri,”. Kalimat yang mengandung histori bahwa memang benar perjuangan pada saat itu adalah mengusir penjajah untuk merdeka. Selain itu kalimat diatas mengandung proyeksi bahwa pemimpin-pemimpin berikutnya akan berjuang lebih berat karena harus melawan saudara sendiri. Dan tidak ada yang salah dari statement tersebut, benar sekarang ini kita sedang berjuang melawan saudara sendiri. Demo dari kalangan mahasiswa untuk mengkritisi pemerintahan negaranya sendiri. Tuntutan rakyat untuk bisa hidup lebih Makmur dan aman. Kebijakan-kebijakan baru yang dibuat pemerintah juga melihat dari histori pemerintahan sebelumnya.

Dari ilustrasi diatas maka penting kan kita menyimpan data histori untuk membuat keputusan/proyeksi untuk kedepannya. Perempuan akan bergerak berdasarkan pengalamannya, melarang jika histori kita gagal, dan mensupport ketika histori kita baik. Contoh yang lain lagi misal ketika menuju lokasi A di jam 15.00 kita mengalami kemacetan parah di jalan utama, maka ketika kita menuju lokasi dan jam yang sama lagi, kita bisa memproyeksikan bahwa disana aka nada kemacetan lagi. Dari dasar tersebut maka kita mencari alternative jalan lain agar sampai ke lokasi tanpa mengalami kemacetan.

Dalam dunia marketing histori pencapaian omset perlu di catat dengan baik. Minimal setiap bisnis memiliki histori pencapaian omset dari 3 tahun lalu. Dari data tersebut kita bisa melihat trend pencapaian omset, sehingga penentuan target proyeksi ke depan tidak terlalu ngasal. Tidak terlalu besar yang sampai membuat tim lemas, atau tidak terlalu rendah yang kesannya meremehkan tim. Contoh hal yang klien kami sudah alami adalah masa-masa lebaran di Nelongso. Di masa biasa omset mereka tinggi, namun di masa lebaran/puasa omset mereka turun sepertiga dari hari biasa. Berbeda dengan kompetitornya, pada saat lebaran mereka mengalami kenaikan omset. Hal sperti ini sempat membuat investor Nelongso kebakaran jenggot. Mereka sanksi dan memprotes ke manajemen. Setelah di lihat dari histori Nelongso dari 3 tahun yang lalu, maka memang terlihat setiap bulan lebaran Nelongso menurun omsetnya. Dari data tersebut maka bisa dianalisis. Dan sungguh mengejutkan ternyata hasil analisis tim managemen Nelongso omset berkurang karena jam jadwal operasional berkurang. Pada hari biasa Nelongso buka 24 jam (3 shift) dan setiap shift selalu penuh, namun ketika masa puasa siang hari (shift 2) menjadi tidak penuh karena jam jam puasa. Saat shift 3 saat buka, tempat di Nelongso tidak mampu menyerap semua orang yang buka puasa, maka larilah mereka ke outlet competitor.

Lalu bagaimana nasib para investor, apakah masih tidak terima dengan hal tersebut? Nah Dengan data histori maka tim manajemen PD untuk ketemu dengan investor. Mereka berbicara dengan data, trend Nelongso tiap tahun seperti itu. Buat investor yang rese, tim bisa memberikan pilihan, mau hari biasa sepi saja agar masa puasa bisa krasa ikut naik atau hari biasa omset tinggi namun masa puasa turun. Dengan artian pilihan pertama merubah jam buka Nelongso, yaitu buka Cuma 2 shift. Histori dalam hal ini bisa menjadi bahan untuk berkomunikasi/mencari investor.

Beda diklien kami yang di Palu, karena masih dalam fase Road to Six Histori dipakai untuk menentukan target proyeksi omset yang ingin di capai. Compare yang dilihat adalah bulan sebelumnya dan bulan yang sama di tahun lalu. Apalagi setelah fase gempa Palu, kebanyakan all data klien kami hilang ikut tertelan bumi. Data omset hilang, data konsumen hilang, bahkan tim juga terdampak gempa yang terjadi. Pada saat meeting penentuan target owner kembali memutuskan target berdasarkan ingatan yang ada. Bulan lalu dapat segini, tahun lalu dapat segitu. Tim yang baru akhirnya ada yang kesannya mendapat target yang terlalu tinggi. Ketika dari omset yang di tentukan ternyata realitanya omset tidak tercapai, maka tim merasa sedih, apakah target terlalu tinggi?

Beda dengan klien kami yang di Tangerang, pada bulan Agustus omset turun dari bulan September. Owner langsung gelisah, tim di push, konsultan di marahi. Tidak ada data tahun lalu yang menjadi compare. Namun setelah kami info bahwa memang trend kuliner di bulan Agustus memang turun, maka kegelisahan owner menjadi sedikit berkurang. Ternyata tidak hanya di outletku ya yang turun, all bisnis kuliner ternyata semua turun. Setelah di anlisis ada kemungkinan karena masa sekolah datang maka daya beli masyarakat menjadi turun.

Lalu bagaimana pencatatan omset yang baik. Dalam versi kami yang ideal adalah seperti ini.

Dalam bentuk tabel

Bulan/Outlet Target Outlet 1 Pencapaian Outlet 1 Target Outlet 2 Pencapaian Outlet 2 Target Outlet 3 Pencapaian Outlet 3 dst
Januari              
Februari              
Maret              
dst              

Yang mana dari table tersebut di convert menjadi diagram garis

\"\"

Dari diagram garis tersebut kita bisa melihat arah trendnya. Lebih oke diberikan perbandingan pencapaian bulan lalu dan tahun lalu untuk menganalisa.

Prosentasi kenaikan dari bulan lalu
Rp xxxxxx 22.70%
Prosentasi penurunan dari bulan lalu
-Rp yyyyyyy -6.48%
Prosentasi kenaikan dari Tahun lalu
Rp xxxxxx 20.0%
Prosentasi penurunan dari Tahun lalu
-Rp yyyyyyy -10.4%

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Go Top